Trống

Menikah Dengan Mantan

Menikah Dengan Mantan

 "What! Tevani tidak mau di jodohkan dengan anak teman, Papa." Tevani langsung berdiri dan mengambil tasnya yang sedari tadi tergeletak di atas meja.

"Tevani kamu ini sangat keras kepala ini semua demi kebaikanmu." Anton papanya Tevani mulai emosi dengan sikap putrinya yang semakin menjadi-jadi.

"Sekali tidak ya tetap tidak. Tevani tidak akan mau menikah dengan anak teman, Papa. Tevani pamit dulu."

Tevani tetap teguh dengan pendiriannya yaitu tidak mau menikah dengan pilihan Papanya, selangkah lagi Tevani menuju pintu depan tiba-tiba seluruh anggota tubuh Tevani terasa tak berdaya setelah mendengar ucapan Papanya.

"Sampai kapan kamu akan menunggu pacarmu itu."

"Tevani tidak punya pacar, dan dia bukan pacar Tevani lagi." Tevani mengusap air matanya yang entah ke sekian kali tumpah karena mengingat kisah cintanya yang kandas begitu saja.

***

"Pagi Vani," ujar Erlin sahabatnya Tevani.

"Cup cup cup, ada apalagi dengan sahabatku yang satu ini, baru pagi-pagi mukannya sudah kusut begini," ejek Mina sambil mengelus-ngelus rambut Tevani.

"Gue lagi badmood," jawab Tevani dengan cuek.

"Badmood kenapa lagi sih Tev, jangan bilang lu masih ingat dengan mantanmu itu," ucap Erlin.

"Heran gue, lu kenapa susah sekali move on dari si cowok kutukupret itu," timpal Mina dengan kesal.

"Ayo cobalah, mulai sekarang lupakan semuanya tentang dia masih banyak cowok yang suka sama lu," ucap Erlin yang tak kalah kesalnya.

"Iya, udah enggak usah diingat-ingat lagi, toh dia sudah bahagia sekarang dengan cewek itu."

"Jangan ungkit-ungkit dia lagi. Okeii aku sudah mulai melupakannya dan yang perlu kalian tau hari ini aku badmood bukan karena dia," ujar Tevani.

"Sejak kapan kamu mulai melupakannya?" tanya Mina dengan semangat.

Erlin menyegol lengan sahabatnya yang satu ini karena sikap keponya sangat berlebihan.

"Sudah di bilangin jangan ungkit kembali."

"Maaf, aku cuman pengen tau." Mina agak menunduk.

"Tidak apa-apa Min. Aku mulai melupakannya sejak kemarin m-a-l-a-m," ujar Tevani dengan terbata-bata.

Kedua sahabatnya tertawa terbahak-bahak setelah mendengar penjelasan sahabat mereka yang sedang bucin.

"Sumpah, lu bikin gue hari ini en-ggak."

"Setelah sekian lama putus, lu baru bisa lupain dia, tapi gue bangga sahabatku ini sudah tidak lagi bucin."

"Gue enggak banget sama lu, lu baru bisa move on dari dia selama satu bulan lamanya."

"Kalian tidak menghargai usahaku untuk move on dari dia," ujar Tevani dengan wajah cemberut.

"Cup cup cup, iya kami menghargai kok perjuangan kamu, lupakan saja dia okei."

Tevani seakan melupakan masalah tentang perjodohan antara dia dengan lelaki pilihan Papanya.

***

Di ruangan tamu bernuansa mewah, lelaki berkulit putih sedang merengek kepada kedua orangtuanya agar ia diizinkan untuk menikah dengan gadis pujaan hatinya.

"Apa kamu yakin ingin menikah dengannya?" tanya Amir meyakini putranya.

"Yakin banget, Pi."

"Baiklah, nanti malam kita akan bertemu dengan gadis pilihanmu itu, kebetulan Papinya juga teman bisnis Papi."

Dring,, dring.

Ponsel Amir berdering tertera nama Anton. Amir segera mengangkat telphonnya.

"Iya, hallo ada apa Anton?" tanya Amir dengan ramah.

[Untuk malam ini pertemuan ini di tunda saja, karena ada rapat bisnis mendadak]

"Tidak apa-apa, mungkin lain waktu saja. Apa Tevani sudah mengetahui perjodohan ini?"

[Sudah, tetapi Tevani masih butuh waktu untuk mempertimbangkannya. Kamu tenang saja saya pasti akan membujuknya].

"Baiklah itu tidak jadi masalah calon besan."

Amir mengakhiri percakapannya dengan Anton dan kembali menatap wajah putra bungsunya.

"Tevani masih butuh waktu, Nak." Dengan berat hati Amir mengatakan itu kepada Putranya.

"Tidak masalah, Pi. Devan akan menunggunya, Devan ke kamar dulu."

Devan beranjak menuju kamarnya yang berada di lantai dua.

"Apa kamu sudah menemukan penggantiku Pipit," ujar Devan menatap bingkai foto seorang gadis yang diambil secara diam-diam.

---

"Hallo, hari ini kita ketemuan di tempat biasa," ujar Devan bersikap dingin dan cuek.

[Pasti kamu kangen kan samaku, dasar Tutut si tukang kangen], jawab seseorang di sebrang dengan tertawa bahagia.

"Aku tunggu jam 3 sore." Devan secara sepihak langsung mengakhiri komunikasi.

Di taman Devan sengaja datang lebih awal karena biasanya setiap mereka bertemu Devan lah yang selalu terlambat datang. Seorang gadis datang berlarian ke arah Devan dengan senyuman manis.

"Kali ini aku yang datang telat, tapi tumben kamu datangnya cepat kan masih lima belas menit lagi jam 3," ujar gadis itu dengan panjang lebar.

"Dev, hari ini aku sangat senang sekali karena nilai matematika ku memuaskan."

Gadis yang memakai stelan baju kodok berbahan levis berwarna hitam itu terus saja bercerita tanpa hetinya dan tertawa dengan ceria. Devan hanya diam dan menatapnya secara dalam melalui sorot mata indah milik pacaranya. Dari sorot mata itu terpancar kebahagiaan.

"Devan." Seorang gadis yang memakai dress selutut berwarna biru melambaikan tangan ke arah mereka. Pacarnya Devan langsung berhenti bercerita dan sedikit kaget ketika gadis pemilik dress itu langsung duduk di samping Devan.

"Sayang aku kangen," ujar gadis pemilik dress berwarna biru.

"Sayang." Perkataan itu kembali di ulang oleh kekasihnya Devin.

"D-i-a siapa Tutut, kenapa dia memanggilmu dengan panggilan sayang?" Kekasihnya Devan bertanya dengan sorot mata yang telah berubah dalam sekejam yang tadinya sorot mata itu berbinar bahagia sekarang menjadi berkaca-kaca.

'Maafin aku Pipit, ini semua demi kebahagiaanmu,' gumam Devan dalam hati seakan tak kuasa melihat sorot mata itu.

"Devan katakan wanita ini siapa?!" tanyanya dengan emosi yang sangat sulit di kendalikan.

Devan menundukkan pandanggannya.

"Maafkan aku, lupakan semuanya tentang kita, lupakan aku. Dia kekasihku namanya Gress."

Kekasih Devan mencoba menghapus air mata yang terus saja mengalir agar terlihat tegar dan kuat menerima kenyataan bahwa lelaki yang ia cintai telah mengkhianatinya.

"Selamat, semoga dia yang terbaik untukkmu, Permisi."

Kekasih Devan bangkit dari duduknya dan meninggalkan mereka.

PART 2

"Selamat, semoga dia yang terbaik untukkmu, Permisi."

Kekasih Devan bangkit dari duduknya dan meninggalkan mereka.

"Dev, apakah ini tidak terlalu menyakitkan untuknya?"

Devan hanya terdiam dan memandangi kekasihnya yang terus saja berjalan semakin menjauh.

"Kita pulang saja," ujar Devan.

*****

Tok,,, tok,,
Suara ketukan pintu terdengar. Devan segera menghapus genang air mata yang menggantung di kelopak matanya saat mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu.

"Iyah, Mi. Sebentar."

Devan segera meletakan bingkai foto di dalam laci di mana semua kenangan bersama kekasihnya juga tersimpan di sana.

"Aku akan memperbaiki semuanya."

Devan segera membuka pintu kamarnya. Maminya yang sedari tadi menunggu di depan langsung masuk ke kamar putranya.

"Kenapa lama sekali?" tanya Mami Tati ibunya Devan dengan lembut.

Devan hanya cengir kuda saja untuk menanggapi Maminya.

***

"Tevani, apa Mama bisa masuk." Mamanya Tevani membuka pintu putri sematawayangnya yang sedari tadi tidak di kunci.

"Masuk saja Ma, pintunya belum di kunci." Tevani sedang di sibukkan dengan aktivitasnya dimana dia merubah kamarnya, yang dulunya penuh dengan kenangan bersama kekasihnya kini harus di kubur dalam.

"Ada apa ini Tevani! Mengapa kamarmu berantakan sekali?" tanya Mamanya Tevani yang terlihat kaget menyaksikan kamar putrinya yang berantakan.

"Mulai detik ini Tevani akan merubah kamar ini, agar semua kenangan bisa Tevani lupakan," ujar Tevani tanpa menghentikan aktivitasnya untuk memasukkan satu persatu bingakai foto ke dalam plastik besar, bukan hanya bingkai foto tetapi juga boneka-bonekanya.

"Apa hubungannya kamar dengan kekasihmu itu." Mamanya Tevani tidak mengetahui siapa kekasih putrinya jangankan kisah mereka foto pun tidak ia tahu.

"Banyak sekali Ma," ujar Tevani yang masih sibuk.

"Ini Mama yang beli Tev, mengapa barang ini ikut masukin ke dalam kantong." Mamanya protes dengan kelakuan anaknya.

"Tevani tidak lagi menyukai warna pink, jadi semua yang berkaitan dengan warna pink akan Tevani masukin ke dalam kantong."

"Sejak kapan anak Mama ini tidak menyukai warna pink, bukannya itu warna kesukaanmu sejak kecil?" tanya Mamanya Tevani.

"Itu kan dulu. Tevani tidak lagi menyukai warna pink, bantu Tevani dong, Ma untuk memasukkan semua barang-barang ini."

"Terserah kamu aja, nanti barangnya letakkan di gudang ya, terus tempatnya yang aman biar kenangan mu ini tetap utuh," ujar Mamanya Tevani yang mulai membantu-bantu putrinya.

***

Dua bulan telah berlalu Tevani tidak mempunyai pilihan untuk mengelak dari perjodohan yang di buat oleh Papanya. Malam ini kedua keluarga telah memutuskan akan ada acara makan malam bersama dengan berat hati Tevani menghadirinya.

Setelah bersusah payah akhirnya Tevani telah melupakan kenangan bersama kekasihnya beberapa bulan lalu, dia tidak lagi menjalin kisah asmara walaupun banyak hati yang ingin bersamanya. Ia bingung apakah ia bisa membuka kembali hatinya kepada seorang laki-laki atau tidak.

"Tevani kenapa lama sekali?" teriakan sang Mama membuyurkan lamuannya.

"Ia, Ma." Tevani menatap dirinya melalui pantulan cermin. Ia memakai dress selutut berwarna dongker, warna yang dulu ia benci sekali dan sekarang menjadi warna kesukaannya dengan polesan sedikit make up.

"Anak, Mama cantik sekali." Pujian sang Mama tidak meluluhkan hati Tevani. Ekspresi wajahnya masih datar tanpa senyuman sedikit pun.

"Coba senyum pasti tambah cantik," ujar Mamanya Tevani.

"Ma, kita jadi berangkat atau enggak, atau menunggu Tevani berubah pikiran untuk tidak jadi ikut," ujar Tevani tanpa basa basi.

"Jadi sayang, yuk Pa kita berangkat." Papa dan Mama Tevani sangat bahagia.

"Ma,Pa, Tevani tidak mau di jodohkan." Tevani mencoba membujuk Papa dan Mamanya.

"Tevani, sudah berapa kali Papa bilang kamu harus ikuti permintaan Papa yang satu ini. Ini semua demi kebaikanmu," ujar Papanya Tevani.

"Tetapi, Tevani tidak mau," ujar Tevani sambil menekuk wajahnya.

"Kamu ini sangat keras kepala. Pokoknya malam ini kamu harus ikut dengan Papa dan Mama, ini bukan pertama kalinya kamu selalu membatalkan pertemuan. Mau di kemanakan harga diri Papa ini jika setiap janji tidak bisa Papa tepatin."

Tevani hanya pasrah dengan ekspresi wajah yang sama yaitu ekspresi datar.

Mobil akhirnya sampai di tempat tujuan. Mereka berjalan menuju meja yang sudah di siapkan, benar-benar persiapan yang mantap tidak ada pengunjung sama sekali kecuali seorang lelaki parubaya bersama dengan istrinya sedang tersenyum kearah Tevani dan keluarganya.

Dengan malas dan berat hati Tevani menyalim tangan calon mertuanya.

"Selamat malam Amir, maaf kami sedikit telat karena terjebak macet," ujar Papanya Tevani.

"Tidak jadi masalah, kami juga minta maaf karena putra kami akan sedikit telat karena ada urusan mendadak."

"Itupun tidak jadi masalah."

Kedua orangtuanya sedang berbicara tentang bagaimana baiknya pernikahan Tevani dan putranya. Makan sudah tersaji di atas meja. Pada saat makan bersama putra Pak Amir yang di tunggu akhirnya pun datang.

"Maaf Om, saya telat," ujar lelaki itu dengan sopan sambil menyalim tangan orantuanya dan juga orangtua Tevani.

Tevani yang sedari tadi menunduk karena merasa bosan dan malas mendengar topik pembicaraan mengenai pernikahan akhirnya mendoak menatap pemilik suara itu, sepertinya suara itu tidak asing baginya.

Komentar
Silahkan, saya ga nggigit !